Pushing Past the Comfort Zone

Jika diri saya di beberapa tahun lalu melihat diri saya di masa sekarang, pasti dia bakalan terkejut. Melihat saya menjadi seorang jurnalis, bertemu dan ngobrol dengan banyak orang, bernapas di lingkungan berbeda. Personality-wise, bisa dibilang saya ini an introvert at heart: cenderung pemalu dan pendiam. Jadi nggak terbayang banget jika saya yang seperti itu kini acting like a total outgoing person.

Baru sebulan lalu saya terbang ke Tokyo, Jepang, untuk meliput acara red carpet sebuah film yang belum lama ini rilis di Indonesia, Guardians of the Galaxy Vol. 2. Dapat kepercayaan redaktur untuk terbang ke Tokyo aja sudah jadi hal yang luar biasa menurut saya. Ini malah saya berkesempatan menghadiri acara red carpet film kesukaan saya dan mewawancara bintang-bintangnya. Kepala saya sampai rasanya mau pecah saat diberi tugas.

Duduk di hadapan Chris Pratt, pemeran utama di Guardians of the Galaxy Vol. 2, beberapa detik sebelum saya melontarkan sejumlah pertanyaan padanya, saya tiba-tiba merasa asing. Asing dengan diri sendiri. Asing dengan sekitar saya. Asing dengan semuanya. Tiba-tiba saya berpikir, "Ini bukan gue! Gue yang sebenarnya nggak bakalan sampai di Jepang kayak begini! Nggak bakalan sedang duduk tegang seperti ini di lantai 1F Ritz-Carlton Hotel Tokyo!".

Perasaan asing itu sempat bikin saya nggak nyaman. Namun, sepersekian detik kemudian, saya menyadari ini semua karena saya sudah di luar zona nyaman. Rasa merinding kemudian datang, lantaran nggak percaya saya sudah menembusnya sampai sejauh ini. Senyum Chris Pratt lalu menarik isi kepala saya kembali ke bumi dan saya pun memulai wawancara singkat saya. Chris Pratt memang gantengnya keterlaluan. Di satu sisi bisa membuyarkan pikiran, tapi di sisi lain bisa menyadarkan jiwa.

Sebulan lewat, saya masih nggak nyangka melihat seberapa jauh zona nyaman yang saya tembus. Malah menurut saya ini nggak hanya menembus, tapi juga melawan arus. Gimana nggak melawan arus, ini benar-benar hal yang unexpected dan di luar akal saya. Sebagai jurnalis yang merangkap penerjemah, saya memang kebanyakan bekerja di kantor. Nggak kayak jurnalis full-time yang ke mana-mana ngejar bahan berita. Eh, tiba-tiba saya dikirim meliput ke luar, yang nggak tanggung-tanggung jauhnya. Udah gitu, ditugasin untuk menemui sosok-sosok yang paling nggak kepikiran bisa saya temui!

Pengalaman ini pun kemudian nggak hanya jadi milik saya. Beberapa teman, saudara, dan kenalan yang udah ngeliat pengalaman ini lewat foto dan video bahkan secara nggak langsung menjadikannya pengalaman mereka juga. "Keren, Yut! Jadi iri, nih!" "OMG! Bangga gue, Iyut!" "Ruth, keren lo!", demikian segelintir komentar dari teman-teman di unggahan video Instagram saya, berisi cuplikan wawancara saya di Tokyo. Sembari salting, saya membaca satu persatu komentar-komentar mereka dan merasa nggak percaya saya bisa dipuji seperti itu.

Being cool isn't me. Iya, saya memang sangat insecure orangnya, paling nggak sanggup jika dapat pujian. Tapi, trust me, that's not my thing. Justru saya menemukan diri saya terlalu banyak memanut atau mengambil inspirasi dari orang lain, jadi nggak keren-keren amat lah. Bagi saya, hal yang membuat saya kagum atau terpesona itu memang bukan sesuatu yang dinilai dari penampilannya, seperti sekadar cantik, tampan, modis, dan lainnya.

Hal yang #MemesonaItu buat saya adalah sesimpel yang mampu membuat saya atau orang lain sampai keceplosan, "Keren banget!". Dan menurut saya, seseorang bisa membuat saya terpesona akan kekerenannya jika hal yang ia lakukan menembus zona nyaman saya atau zona nyaman orang tersebut. Sebab, bagi saya, tandanya orang itu sudah menembus zona itu dengan banyak hal: keberanian, prestasi, dan lain-lain.

IMG_3749.JPG

Sejatinya, menembus zona nyaman memang menjadi sebuah tantangan sulit bagi manusia, sebab makhluk yang satu itu sudah diprogram untuk mencari kenyamanan. Satu caranya adalah melalui kemampuan beradaptasi. Tapi, yang membuat upaya menembus zona nyaman itu menarik adalah bagaimana manusia itu menantang dirinya. Ibarat kata, seperti manusia itu rela membuat dirinya menderita, demi mendapatkan sesuatu: pengembangan diri. Menariknya lagi, pengembangan ini selalu positif, tak peduli apakah menurut manusia itu upayanya menembus zona nyaman berhasil atau tidak.

Dari pemikiran tersebut, saya merenung. Pantas saja saya tidak pernah merasa pujian-pujian "keren" itu pantas diberikan pada saya. Sebab, saya masih tak percaya bahwa saya bisa jadi seperti sosok yang memesona versi saya: yang bisa menembus zona nyaman. Yang mau dibodohi diri untuk mau menantang diri. Mau membuat diri degdegan dan keringat dingin di depan seleb Hollywood dan sutradara papan atas. Puji Tuhan, semua bisa dilalui, meski tidak nyaman, karena namanya juga menembus zona nyaman. Dan yang paling penting, untungnya saya tidak mau kapok dan kepingin terus menembus jauh zona itu, supaya bisa terus menjadi sosok yang #MemesonaItu!

Dalam usaha menembus zona nyaman lebih jauh lagi sebagai seorang jurnalis, tentu saya tidak bisa berusaha sendiri. Saya tentu butuh inspirasi dari banyak hal, apapun itu. Sesimpel dari apa yang paling melekat dengan tubuh dan tidak boleh ketinggalan dipakai dalam keseharian saya: ponsel untuk bekerja dan parfum untuk menjaga tubuh tetap segar saat bertugas di luar ruangan. Favorit saya adalah Vitalis Body Scent varian Bless, karena mengandung wewangian kesukaan saya, yaitu bunga jasmine dan apel.

Wangi manis yang energetic khas dewberry juga dapat ditemukan dalam parfum ini, yang uniknya mengingatkan saya pada masa-masa remaja yang saat itu paling familiar dengan wangi seperti itu. Botolnya yang ramping dan pas untuk digenggam membuat Vitalis Body Scent ini cocok dibawa di dalam tas kecil saya. Apalagi kemasannya lengkap dengan penutup pada bagian spray-nya, jadi tidak perlu takut isi parfum bakalan tumpah atau ujung spray-nya tertekan.

Yang membuat cocok lagi adalah cukup beberapa semprot, Vitalis Body Scent awet bikin tubuh saya wangi segar seharian. Mau saya sedang ditugaskan di dalam atau luar ruangan, segarnya sama. Wangi segar seperti itu yang kemudian menginspirasi saya untuk tetap percaya diri menembus zona nyaman, melalui kesempatan-kesempatan mengejutkan yang saya dapatkan dengan menjadi jurnalis. Mendapatkan kesempatan-kesempatan yang unexpected, seperti terbang ke Tokyo dan bertemu seleb-seleb Hollywood, memang jadi one of the perks of being a journalist. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya sering feel "bless"-ed, seperti nama body scent favorit saya itu.


This post is a submission for a blog competition by Vitalis, under the theme '#MemesonaItu'. Go visit http://www.pesonavitalis.com/memesonaitu/ to join! Simply register and submit your entry (through a link to the post), before May 21st 2017. Win iPhone 6, IDR 500k Sodexo vouchers, and many more!

#MemesonaItu