Why I’m So Skinny & Other Facts About It

Why I’m So Skinny & Other Facts About It

…and can everyone now please stop asking me whether I eat enough?

Selama mencoba untuk serius ngeblog dalam beberapa tahun terakhir, saya selalu berusaha untuk membawa energi dan atmosfer positif lewat tulisan-tulisan di blog ini—itulah mengapa saya selalu menulis hal-hal yang memang saya suka atau senang untuk bicarakan. But this one’s probably the type of post that somewhat out of depression—which I hope you won’t bite too hard. Saya sudah sering membicarakan hal ini dengan teman-teman saya dan ternyata masalah tersebut memang dihadapi banyak orang. And that’s not okay!

If you know me, pasti bakalan paham mengapa saya menulis soal ini. Sudah 20 tahun lebih dalam hidup saya menerima pertanyaan-pertanyaan (atau bahkan pernyataan) seputar tubuh saya yang super kurus dan pasti kurang makan (spoiler: I’m not). Seringkali pertanyaan atau pernyataan soal itu diutarakan terang-terangan, like someone would approach me and said those crappy things. Biasanya, karena sudah terbiasa, saya tanggapi saja dengan senyuman atau candaan. Dan saya paham, mungkin mereka bermaksud peduli atau khawatir dengan kesehatan saya. Well, it’s nice to have someone cares about me, tapi kalau sampai bilang saya “kurang makan” atau “malas makan”?

LCNDE7645[1].JPG

Let me start by saying that my body measurements are around 155 centimeters and 40 kilograms. Jadi nggak hanya kurus banget, saya juga pendek. Bayangkan seorang yang berusia sekitar 20 tahunan, tapi terjebak dalam tubuh usia ABG. Kalau meminjam kalimat seorang teman, saya itu bisa dibilang nggak bertumbuh lagi setelah lulus SMP (nyebelin, sih, tapi LOL).

Saya nggak tahu tepatnya sejak kapan komentar-komentar yang saya sebutkan sebelumnya saya anggap sebagai something offensive—mungkin sejak saya concern dengan berat badan dan berupaya untuk gain weight. Tapi saya nggak pernah setuju dengan segala bentuk komentar atau kritik soal penampilan tubuh in general. Karena “kurus banget, malas makan, ya?” itu sama nggak sopannya dengan “gemuk banget, banyak makan, ya?”. Lagipula, kalau emang banyak makan atau sedang mengurangi makan, terus kenapa?

Saat memikirkan soal tema #BPN30DayBlogChallenge kali ini, 5 fakta soal diri sendiri, the idea of writing about the facts of being a skinny girl came to me. Komentar-komentar soal badan kurus yang selama ini saya dapatkan tentunya kebanyakan datang dari asumsi-asumsi keliru soal saya. Karena itu lewat tulisan kali ini, saya ingin semacam memberikan sudut pandang saya and offer my shoes for you to fill in.

So here are some facts of me being a skinny girl—coming from some wild assumptions people told me and frequently asked questions I’ve been received.

INRA0311[1].JPG

5 Facts of Me Being a Skinny Girl

Saya banyak makan dan nggak pernah menguranginya. In fact, orang-orang selalu heran ngeliat kelakuan saya yang kayak nggak bisa berhenti ngunyah (LOL!). Dan dengan kebiasaan begitu, saya masih suka beberapa kali menjalani program weight-gaining: langganan katering diet khusus, minum susu tiga kali sehari, dan lainnya.

Saya nggak cacingan. Sudah pernah periksa sejak kecil dan hasilnya nggak. Imunitas tubuh saya juga tinggi, jadi kayaknya nggak mungkin (eh, ngaruh nggak, sih?).

Saya juga nggak begitu paham mengapa bisa sekurus ini. Makan banyak, iya. Kena penyakit, nggak. Terus kenapa kurus banget? Saya pun nggak tahu, pemirsa. Mama pernah bilang kalau saya ini kemungkinan punya high metabolism turunan, which allows my body to burn calories and fat at some stupid fast rate. Alias apapun yang saya makan atau minum cuma lewat doang (CMIIW).

Saya kesulitan cari ukuran pakaian yang pas. “Badan langsing kayak gini pasti gampang, deh, cari ukuran bajunya.” Man, you really don’t know about my struggle. Terkadang ukuran XS saja masih kegedean buat saya. Tapi ketimbang baju, menemukan celana dengan ukuran pinggang yang pas is the biggest challenge. Menemukan ukuran sepatu yang pas jadi hal tersulit kedua. Beberapa celana dan sepatu saya bahkan ukuran anak-anak, lho.

Saya nggak merasa kalau berbadan kurus itu “lebih enak”. Paling empet kalau dengar kalimat “…tapi, kan, seenggaknya kurus itu lebih enak daripada gemuk.” No, honey. Mungkin dipikir enak karena bisa nyempil di tempat sempit, bisa makan banyak tanpa mikirin berat badan, atau bisa digendong cowok (someone told me this). Tapi harus tahu, kalau orang sekurus saya itu gampang kedinginan, pantatnya cepat sakit kalau kelamaan duduk di permukaan keras, nggak mampu angkat sesuatu yang berat, dianggap “tengkorak hidup”, dan masih banyak lagi.

Don’t get me wrong—I love my body. Sempat sulit menerima kenyataan bertubuh sangat kurus seperti ini, karena nggak tahan dengan penilaian orang mengenai saya yang menurut mereka “kayak nggak pernah dikasih makan” (sadly someone told this to my mom), “malas makan”, atau simply “kurusan” di saat saya justru sedang mati-matian berusaha untuk menambah berat badan. But now I’ve been trying to brush off everything and accept my body. Karena yang penting itu adalah bisa sehat dan menikmati hidup. Jadi bersyukur saja dengan apa yang ada. And be happy!

Sign-up to my bi-weekly newsletter (coming soon!) here, or follow me via Bloglovin here.