Growing Up Online & Why I Did a Massive Unfollow

Growing Up Online & Why I Did a Massive Unfollow

Pernah nggak merasa jenuh dengan media sosial karena isinya begitu-begitu aja? Pamer barang lagi… Julid-an warganet lagi…

Kalau ngomongin media sosial, jadi ingat kalau saya udah jadi pengguna setianya sejak SMP. Akun media sosial pertama yang pernah saya punya itu di Friendster (who’s with me?). Sampai sekarang, saya masih aktif di akun Facebook, Instagram, dan Twitter—yang semua akunnya saya miliki sejak SMA, kecuali Instagram. Akun-akun tersebut biasanya saya gunakan untuk komunikasi dengan teman atau kenalan offline yang connect dengan saya juga di dunia maya. Selain itu, akun-akun itu pun jadi wadah untuk berbagi foto, video, atau tautan, serta sumber hiburan dan inspirasi.

Di tahun-tahun pertama punya akun medial sosial, saya cenderung lebih terbuka untuk berkoneksi dengan akun-akun lain di luar sana: accept friend request dari akun-akun yang sebenarnya pemiliknya nggak kenal dekat atau bahkan nggak kenal, follow akun-akun populer, dan lainnya. Pokoknya yang membuat jumlah akun di kolom friends atau following saya banyak (jadi followers pun banyak). Tapi seiring berjalannya waktu, saya jadi merasa akun-akun tersebut tak lagi jadi tempat untuk mencari hiburan dan inspirasi seperti awalnya. In fact, everything feels like old and somehow becomes a burden.

IMG_8155.JPG

Saya merasa kolom feed hanya jadi ajang pamer indahnya kehidupan ala media sosial. I feel uninspired—malah stres karena seringkali merasa dikecewakan pencapaian hidup yang nyatanya nggak seindah yang kerap dipamerkan orang-orang di media sosial. Feed saya pun dipenuhi banyak akun yang pemiliknya nggak saya kenal atau nggak pernah interaksi dengan saya. Biasanya akun-akun yang pemiliknya baru kenal atau asal follow dan minta di-follow back. Padahal fitur follow dan add friends itu dibuat agar kita bisa punya feed yang personal, berisi hal-hal yang memang disukai dan mau kita lihat.

As a product of the first generation growing up online, saya menyadari bahwa manfaat yang diberikan media sosial di usia saya yang sekarang jadi sangat berbeda dengan saat pertama kali saya membuat akun-akun media sosial tersebut. Karena itulah saya kemudian melakukan online decluttering.

IMG_8157.JPG

How I Decluttered My Life Online

Started with my social media accounts. Sebenarnya online decluttering itu bermacam. Tapi, karena saya merasa baru butuh yang untuk media sosial, jadi saya mulai dari itu dulu, sebelum merambah ke yang lain.

The straight-up “no”. Saya mulai unfollow dan unfriend akun-akun yang nggak relevan lagi dengan preferensi saya. Semisal, kalau di Instagram, saya dulu suka follow akun-akun yang punya feed berestetika tinggi. Sekarang karena sudah bosan, saya tinggalkan.

Let inactive accounts go. Saya menemukan banyak akun yang ternyata sudah nggak atau jarang update. Untuk apa tetap follow akun-akun seperti itu?

…also the least interactive. Akun-akun yang jarang sekali berinteraksi dengan saya juga saya tinggalkan.

Melakukan online decluttering ini memang awalnya nggak gampang. In fact, decluttering is always considered as something that’s emotionally hard to do for a hoarder like me. Saat berkali-kali melakukan pertimbangan untuk unfollow atau tidak, beberapa akun sempat membuat saya galau. Soalnya ternyata dari banyak akun yang ingin saya unfollow, kebanyakan di antaranya adalah akun milik teman-teman sekolah atau kuliah yang memang nggak dekat dengan saya. Pastinya timbul rasa nggak enak atau bersalah untuk unfollow—apalagi mengingat mereka sudah follow kita.

But, people change—and I do, too. Dulu mungkin saya nggak keberatan untuk follow back mereka. Tapi setelah dipikirkan lagi sekarang, saya malah nggak tahu buat apa saya follow mereka. Karena mereka sudah follow kita? Oke. Tapi, apakah saya sesungguhnya mau atau tertarik lihat updates mereka di feed saya? Enggak juga. Mungkin kata-kata saya terdengar straight forward atau “JLEB!”, but I really don’t see the point of having pictures or updates from people that you don’t even interested to know. Kalau nanti orang-orang itu pada akhirnya unfollow saya, I won’t take it hard karena itu memang sudah menjadi hak mereka.

Pemikiran yang sama juga saya terapkan untuk akun-akun selebgram yang dulunya saya follow karena foto-foto liburannya bagus atau sering memamerkan kehidupan serba ‘wah’-nya. Don’t get me wrong—I used to be interested to those things, karena berharap saya bisa let’s say liburan juga kayak mereka, atau living that lush life seperti mereka. Tapi makin ke sini, yang ada saya malah sibuk membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan ala Instagram. Jadinya tiap kali lihat feed, saya jadi merasa terbeban karena selalu diingatkan bahwa hidup saya belum seindah yang ada di Instagram.

Setelah melakukan unfollow dan unfriend massal yang menghapus ratusan akun dari feeds, saya mulai melirik akun-akun inspiratif atau yang menawarkan hal-hal positif untuk meng-improve feeds. Saya juga lebih ketat mengkurasi akun-akun apa yang ingin di-follow, accept, atau add as friend. Saya hanya berkoneksi dengan akun-akun yang memang saya sukai, ingin interaksi, atau ingin saya ikuti updates-nya. Saya ingin akun-akun media sosial saya memberikan manfaat dan dampak baik, which is the main reason for me to keep using social media.

 Credit: Jonas Svidras from Pexels

Credit: Jonas Svidras from Pexels

Little Tips on Decluttering Online

Take your time. Memutuskan untuk melakukan unfollow dan unfriend secara massal memang tidak mudah karena seringkali butuh pertimbangan tertentu. Nggak perlu terburu-buru mengambil keputusan. It’s your account anyways, just do what you want to do or what you think is best for you.

Gunakan opsi atau fitur lain. Ada kalanya kita berberat hati untuk tetap mem-follow akun-akun tertentu yang sebenarnya mau di-unfollow tapi benar-benar nggak enak melakukannya. Ini bisa disolusikan dengan beberapa fitur, seperti mute di Instagram atau unfollow updates di Facebook.

Ask yourself reflective questions. Kalau sulit untuk memutuskan mau unfollow atau tidak, coba tanyakan ini pada diri sendiri: Apakah saya masih mau lihat updates atau foto-foto akun ini di feed saya? Apa yang membuat saya masih harus mengikuti atau berkoneksi dengan akun ini?

Jadwalkan secara rutin. Pertama kali melakukan online decluttering, saya praktis menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar laptop untuk menelusuri kolom friends dan following akun-akun media sosial saya. Kalau kamu sudah melakukannya, jadwalkan sekiranya tiga atau enam bulan sekali untuk kembali mengkurasi feeds-mu.


Have you ever tried to do an online decluttering? What do you think about it?

Sign-up to my bi-weekly newsletter (coming soon!) here, or follow me via Bloglovin here.