Five Things I Learned from Cleaning Out My Closet

Five Things I Learned from Cleaning Out My Closet

Who knew cleaning out closet could be so therapeutic?

Masih ingat cerita saya mencoba metode KonMari? Gara-gara nonton The Life-Changing Magic of Tidying Up, saya jadi tertarik untuk mengikuti metode decluttering and organizing yang dipopulerkan Marie Kondo. And if you read my post or familiar with the method, pasti tahu kalau langkah pertama yang dilakukan untuk mempraktikkan metode KonMari adalah bongkar lemari pakaian.

With full confidence, I must say that getting rid of clothes is definitely not something I'm good at. Kedengarannya simpel: tinggal ambil pakaian yang jarang atau nggak pernah dipakai, lalu singkirkan. Tapi melakukannya nggak semudah itu, and I know I'm not the only one. Padahal sekitar 80 persen isi lemari saya adalah pakaian yang jarang dan nggak pernah dipakai. Sampai sekarang saya masih bingung mengapa sulit buat saya untuk menyingkirkannya. Mungkin karena malas aja ya, hehe. Anyways, I came to some realizations about decluttering and investing on clothing setelah membongkar lemari dan mencoba untuk mengurangi isinya.

casual-wear-clean-close-up-2112651.jpg

What I Learned from A Closet Clean Out

No strings attached. Kebanyakan isi lemari saya bertahan lama karena saya nggak tega membuangnya. Saying goodbye to our belongings, apalagi yang udah dimiliki cukup lama, is hard. Tapi kalau merasa "sayang" melulu, kapan rapinya itu lemari :) Jadi sejak rapi-rapi, saya mulai memberlakukan aturan "no strings attached". Nggak mau lagi terbiasa untuk terlalu "sayang" sama barang sampai nggak mau melepasnya. Apalagi kalau barangnya cuma menuhin lemari aja. Mending sayangnya dikasih ke orang lain aja, ya nggak?

Grateful goodbye. Ngomong-ngomong soal susahnya saying goodbye, ternyata mengucap syukur atau berterimakasih sebelum membuang sesuatu itu benar-benar memudahkan proses decluttering. Trik ini saya pelajari dari metode KonMari, yang menyarankan untuk menyampaikan terima kasih kepada barang-barang yang hendak disingkirkan. So there won't be any guilty feelings ketika hendak membuang sesuatu.

Spark joy only. Lagi-lagi ini dari metode KonMari, yaitu menyimpan hal-hal yang membawa kebahagiaan buat kita. Jadi saya sekarang cuma mau menyimpan atau membeli pakaian atau barang yang senang saya pakai dan langsung menyingkirkan benda-benda yang udah nggak membawa kebahagiaan buat saya. Konsep "spark joy" ini juga menurut saya lebih "no strings attached" dan lebih memudahkan saya ketia memilah barang. Jadi kalau ada benda yang nggak membuat saya senang ketika menggunakan atau memakainya, langsung saya singkirkan.

apparel-black-blur-2112648 (1).jpg

Basics are forever. Saya mendapati koleksi pakaian yang semakin sering saya kenakan sekarang ini adalah basic outfit seperti kaos, atasan simpel, dan jins. Sebaliknya, koleksi pakaian yang semakin jarang saya pilih adalah atasan bermodel 'ribet’ serta busana dengan bahan yang ramai motif atau nggak nyaman. Setelah decluttering, koleksi pakaian yang tersisa di lemari kebanyakan adalah basics. Tren berbusana mungkin akan terus berubah, tapi sekarang saya akan lebih memilih basic outfit seperti kaos atau busana dengan warna-warna netral.

Regularly update yourself... on what happens in your closet. Membereskan lemari membuat saya tahu apa saja yang saya punya atau simpan di lemari itu. Saya tahu berapa kaos, jins, atau tas yang saya punya — termasuk model apa saja. Jadi saya nggak lagi boros dan kalap kalau belanja. Saya udah lebih pilih-pilih kalau beli pakaian. Selain mikir pakaian itu sparks joy atau nggak, saya juga mikirin pakaian itu cocok nggak kalau dipakai dengan pakaian lain yang saya punya di rumah. Jadi harus rutin juga membereskan atau bongkar lemari.

apparel-casual-wear-closet-2112636.jpg

Have you cleaned out your closet? Tell me your decluttering stories!

Images by Leticia Ribeiro from Pexels

Sign-up to my bi-weekly newsletter (coming soon!) here, or follow me via Bloglovin here. Get your free 2019 printable calendar here!