Books That I Can't Stop Recommending

Books That I Can't Stop Recommending

Sebenarnya membaca adalah salah satu hal yang paling saya sukai, terutama untuk mengisi waktu luang. Kayaknya tipikal orang yang suka menulis, ya (eh, iya, nggak, sih?).

Tapi beberapa minggu ini I’ve been struggling with many things in my hands dan praktis nggak punya banyak waktu untuk duduk manis dan membaca. Padahal masih banyak buku di rak yang belum terjamah—buku-buku hasil buruan di Big Bad Wolf tahun ini, misalnya. Truth be told, I miss reading so much. Untuk liburan akhir tahun nanti, saya berniat untuk banyak menghabiskan waktu dengan membaca, to catch up with my reading list and the excitement of sniffing fresh pages.

Jadi untuk topik blog challenge kali ini, saya memilih untuk membagikan judul-judul buku yang sampai sekarang jadi jawaban saya kalau ada yang minta rekomendasi bacaan bagus. Buku-buku yang saya sebutkan memang the ones that leave a deep and big impression to me. Bahkan kebanyakan di antaranya membuat saya kembali teringat dengan kesan saat pertama kali membaca saat saya menulis postingan ini. The books are mostly in English, tapi ada beberapa yang karya penulis Indonesia.

 Books That I Can’t Stop Recommending - By Ruthie

Books That I Always Recommend

We Were Liars - E. Lockhart

Dari semua judul yang saya sebutkan di sini, inilah buku yang paling membuat saya terenyuh dan meninggalkan kesan dalam—bahkan sampai saya selesai membacanya dan meninggalkan tablet saya. Saya membaca versi e-book-nya setelah penasaran karena cover-nya sering muncul di rekomendasi Goodreads. Ternyata memang sebagus itu dan saya jadi ingin beli bukunya.

Awal jalan ceritanya memang sedikit membosankan karena banyak penjelasan terkait tokoh dan silsilah keluarganya. But as the story went, it became more and more interesting that I couldn't take my eyes off the book. Banyak momen flashback dan false memory akibat amnesia yang dijadikan plot twist, yang kadang membuat bingung tapi penasaran. Overall, ceritanya indah sekali. Saya merasakan sedih yang mendalam untuk tokoh Cady yang kehilangan kekasih hatinya. I can't imagine such burden she carries after that accident, let alone how she moves on with her life.

The Little Prince - Antoine de Saint-Exupéry

Setelah berulang kali direkomendasikan oleh sahabat saya, akhirnya saya membeli buku ini via online di Books & Beyond (waktu itu lagi diskon pula). Waktu sampai di tangan, kaget banget mendapati wujudnya yang super tipis dan berukuran sangat handy. Tapi memang benar katanya: jangan pernah menilai buku dari sampulnya (juga penampakannya).

Never thought that this thin, simple, and half-illustrated book would be such deep and precious as indeed it is. Pada intinya, buku ini berisi imajinasi-imajinasi seorang bocah yang turns out sangat dalam jika direfleksikan. Tiap kali membalik halamannya, saya selalu dibuat merenung dan memikirkan apa yang diutarakan oleh si Pangeran Kecil. Selain cerita, buku ini juga memuat banyak philosophical quote yang bikin merenung juga menyentuh hati. What is most important is indeed invisible.

Me Before You - Jojo Moyes

Lagi-lagi gara-gara rekomendasi Goodreads, saya jadi membaca versi e-book-nya. "And then, just like that, my heart broke…" (hlm. 348). And it did. This book’s very heart-breaking. Buku ini meninggalkan kesedihan mendalam setelah saya selesai membaca. Nggak sampai bikin menangis, sih—which was very unlikely since I’m truly a cry-baby—tapi rasanya hati, tuh, tercabik-cabik saking sedihnya. Mungkin karena saya mendapati cerita Will dan Lou ini lebih ke sedih yang membuat patah hati.

However, I've been wondering whether Will really loved Lou or not, karena dia nyaris nggak pernah terang-terangan menyatakannya (nggak kayak Lou dengan pembawaannya yang selalu menggebu-gebu). Sejauh yang saya baca, Will hanya menyampaikan ke Lou bahwa perempuan itu sudah mengubah hidupnya. Meski suka banget sama bukunya, sampai sekarang saya belum nonton filmnya karena takut kecewa kalau adaptasinya gagal dan menghancurkan imajinasi saya untuk buku ini.

ETIO9675[1].JPG

Supernova Series - Dee Lestari

Seri ini merupakan kumpulan novel berbahasa Indonesia pertama yang saya sentuh setelah cukup lama melahap buku-buku berbahasa Inggris semasa kuliah. Menjadi mahasiswi Sastra Inggris memang sempat membatasi preferensi membaca saya. Seri Supernova inilah yang kemudian mengubah pandangan saya terhadap novel berbahasa Indonesia. Selama ini saya selalu mengagumi bacaan berbahasa Inggris karena permainan diksinya dan di novel ini saya bisa melihat teknik permainan kata yang serupa. Gara-gara ini, saya jadi tertarik mendalami kosakata bahasa Indonesia.

Membaca novel-novel ‘Supernova’ yang terdiri dari ‘Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh’, ‘Akar’, ‘Petir’, ‘Partikel’, ‘Gelombang’, dan ‘Intelegensia Embun Pagi’ ini seperti mengarungi berbagai aspek hidup. Juga diajak membuka pikiran untuk banyak hal—mulai dari ilmu alam, sampai filosofi kehidupan. Jadi setelah membaca tiap novelnya, kepala selalu bertambah isinya. Makanya saya selalu menganggap tulisan Dee untuk seri ini sangat jenius. Menurut saya, ‘Supernova’ bacaan wajib, sih.

Eleanor & Park - Rainbow Rowell

Awalnya saya sempat dilema ingin memasukkan judul ini atau ‘The Fault in Our Stars’-nya John Green karena dua-duanya meninggalkan kesan yang sama setelah dibaca. Tapi akhirnya saya memilih karya Rainbow Rowell ini karena TFIOS sesungguhnya rada mirip ‘Dealova’-nya Dyan Nurainindya dan ‘Me Before You’-nya Jojo Moyes, jadi ceritanya nggak spesial-spesial amat dan bukan sesuatu yang baru juga.

Novel ini bercerita tentang kisah cinta monyet sepasang remaja bernama Eleanor dan Park, sesuai judulnya. Ceritanya cheesy AF karena namanya juga the innocence of high school romance, yang membuat saya saat baca jadi ikut senyam-senyum dan ketawa geli sendiri. Tapi yang menurut saya spesial adalah tokoh-tokohnya yang nggak begitu spesial: seorang cewek berambut merah yang nggak cantik-cantik amat (menurut Park) dan seorang cowok half-Asian. Cerita cinta mereka jadi menarik karena kesederhanaan love story-nya yang really warmed my heart. Gaya penulisan Rowell juga membuat saya merasa seperti mengalami langsung kisah ini.

Do you have any favorite books worth to recommend? I’m open for anything!


Sign-up to my bi-weekly newsletter (coming soon!) here, or follow me via Bloglovin here.