Being a Plant Lover: My Top Tips

Being a Plant Lover: My Top Tips

Tanaman dalam ruangan kayaknya lagi populer banget, ya, dalam beberapa tahun terakhir ini. Nonetheless, I’m glad to get on board with the trend!

Kalau lihat foto-foto blog saya yang sering memasukkan elemen tanaman, udah bisa menebak belum, sih, bahwa saya ini penyuka tanaman? Sejak pertengahan tahun ini, saya memang lagi suka-sukanya dengan tanaman—terutama tanaman indoor alias houseplants. Awal sukanya dari Pinterest, saya jatuh cinta sama ruangan-ruangan cantik dengan hehijauan. Kalau ada tanaman, pasti ruangan langsung kelihatan warm, fresh, dan lebih hidup.

Setelah kamar saya direnovasi dan ditata ulang agar terlihat minimalis, saya akhirnya tergerak untuk mulai mengoleksi tanaman. Tanaman pertama saya dibeli di IKEA. Enaknya kalau di IKEA, tuh, yang dijual memang tanaman-tanaman yang cocok untuk indoor, jadi tinggal pilih mana yang cocok. It all started with a devil’s ivy dan sampai sekarang terus bertambah menjadi koleksi saya yang sekarang. Koleksi saya belum begitu banyak layaknya pecinta tanaman yang serius gitu, sih. Ini baru hasil ‘celup-celup kaki’ dan rencananya saya mau merambah ke tanaman yang lebih besar. Thinking about adding palms and philodendrons to the family…

DZZQ6579[1].JPG

My Current Houseplant Collection

Sirih gading (Epipremnum aureum). Jenis tanaman ini direkomendasikan banget untuk indoor di Pinterest. Dan memang benar, dari awal saya mulai mengoleksi tanaman di kamar, tanaman ini yang paling bandel dan awet. Sangat minim maintenance karena nggak perlu terlalu sering disiram dan udah gitu cenderung cepat banget tumbuhnya. Sirih gading juga mudah adaptasi dengan lingkungannya, jadi perawatannya sangat mudah.

Di kamar, saya punya dua jenis sirih gading: yang daunnya berwarna lebih muda (as pictured above) dan lebih tua (as pictured below). Berdasarkan pengalaman saya, yang lebih mudah perawatan dan cepat tumbuhnya itu yang daun warna muda. Kalau yang daun warna tua sedikit tricky karena harus lebih sering disiram dan pertumbuhannya cenderung sangat lambat, jadi harus banyak bersabar.

CGMM1706[1].JPG
WAQV8865[1].JPG

Sri rejeki (Aglaonema). Ini juga termasuk yang nggak begitu rewel, asal nggak lupa disiram sesuai jadwal aja (and as seen below, yes, ini sempat beberapa kali kelupaan disiram saat lagi nggak di rumah). Sri rejeki juga cukup mudah perawatannya dan cocok untuk diletakkan di ruangan ber-AC. Intinya selama manusia bisa nyaman di ruangan tersebut, pasti tanaman ini juga akan baik-baik saja. Sayangnya, sri rejeki punya saya nggak memiliki corak daun khas kayak aglaonema kebanyakan. Tapi manfaatnya sebagai penyerap racun sangat berguna. Kamar saya yang belum lama ini dicat ulang dindingnya bisa bebas dari bau sengit cat kurang dari lima hari saja berkat tanaman ini.

Dragon tree (Dracaena marginata). Tanaman jenis ini awalnya agak ngebingungin cara perawatannya buat saya. Soalnya awal memiliki ini di kamar, saya sempat bingung karena tanaman ini gampang layu daunnya. Padahal sudah disiram terus, ditempatkan agak teduh, dan jendela kamar rutin dibuka biar sirkulasi udaranya bagus. Eh, ternyata dragon tree ini harus diletakkan di pot yang memiliki drainase baik. Soalnya setiap disiram, airnya harus sampai keluar. Lalu tanahnya juga harus dibiarkan dry out di setiap jeda penyiraman. Agak ribet tapi it’s fine by me.

SRTK7679[1].JPG

Little Tips on Houseplants

Pilih tanaman yang benar-benar gampang adaptasi dan minim maintenance. Apalagi yang nggak mau ribet karena ceroboh dan jarang berada di rumah. Rekomendasi saya adalah sirih gading, lidah mertua, sri rejeki, serta tanaman-tanaman jenis palem dan kaktus.

Ruangan harus memiliki sirkulasi udara yang baik. It’s always a good thing for any houseplants—untuk yang berkemampuan menyerap udara panas, lembap, atau beracun sekalipun.

Ketahui detail lingkungan yang cocok untuk tanaman. Misalnya, suhu minimal dan maksimal, paparan cahaya, kelembapan udara, dan lainnya. Karena nggak semua tanaman indoor cocok di ruangan tertentu, misalnya ruangan ber-AC atau ruangan yang tertutup.

Jangan asal pilih pot. I learnt this the hard way for my dragon tree. Jangan karena lihat pot yang menggemaskan, lalu jadi impulsif beli dan ganti pot tanpa cari tahu soal pot yang sesuai untuk tanaman tertentu (kayak saya).

Cek kadar toksin tanaman. Penting, nih, buat yang punya hewan peliharaan di rumah, terutama anjing dan kucing yang suka usil gigitin tanaman. Karena ada tanaman-tanaman indoor yang beracun that are very dangerous for our four-legged buddies.

Jangan abaikan daun mati. Daun atau bagian tanaman yang mati dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Jadi jangan dicuekin, ya. Langsung dipotong atau dicabut!

Selalu research sebelum membeli tanaman. Ketahui soal perawatan dasarnya, seperti cara menyiram, frekuensi menyiram, permasalahan umumnya, dan lain-lain. Selain itu pastikan juga kalau kita sebagai pemilik memang mampu dan berkomitmen merawatnya.

Sign-up to my bi-weekly newsletter (coming soon!) here, or follow me via Bloglovin here.