A Life-Changing Week with The KonMari Method

A Life-Changing Week with The KonMari Method

Definitely a miraculous week!

Hi, I’m back! Sorry for the long absence; it’s been weeks! How’s the new font look like to you, by the way? Saya memutuskan untuk sedikit menyegarkan tampilan blog ini dengan perubahan pada jenis font, if you haven’t notice yet. Pilihan font baru akhirnya jatuh pada Europa karena kelihatan sweet and simple, sesuai dengan tema desain blog ini. Anyways, here’s what happened during my absence: I tried the KonMari Method. Jadi ceritanya, saya beberapa minggu terakhir ini binge-watching Tidying Up with Marie Kondo di Netflix dan tertarik banget sama metode decluttering and organizing yang dipopulerkan oleh Marie Kondo. Lebih tepatnya saya suka banget sama mindset “spark joy” (atau tokimeku dalam Bahasa Jepang) yang menjadi dasar metode itu.

Saya jadi penasaran dengan banyak hal yang saya dapat dari TUWMK dan akhirnya menghabiskan seminggu terakhir ini dengan mempraktikkan sedikit metode dan tips yang didapat. Hasilnya life-changing banget—ini nggak lebay. Saya juga kayaknya harus segera membaca The Life-Changing Magic of Tidying Up dan melengkapi sedikit ilmu yang saya dapat dari TUMWK. Baru seminggu mencoba sedikit aja sudah mengubah mindset dan lifestyle saya, gimana lagi kalau mengikuti metodenya secara keseluruhan. And here’s how the method changed my life in a week:

HICY8002[1].JPG

Things I've Learnt from The KonMari Method

Spark joy and gratitude. Jujur, awal saya menonton TUWMK, saya punya ekspektasi bahwa apa yang akan didapat dari series terbaru Netflix itu sekadar metode untuk merapikan all of my belongings secara efisien. But turns out tidying up with the method is SO much more than that! Saya diperkenalkan dengan konsep “spark joy” yang menjadi dasar dari metode tersebut. Intinya, merapikan ala KonMari itu menata segala hal yang ada di kehidupan kita in a way that sparks joy. Mulai dari memilih hal-hal yang memberikan kebahagiaan untuk disimpan, sampai menyimpan atau menata hal-hal tersebut dengan cara yang bisa membangkitkan kebahagiaan dalam diri kita. Setelah melakukan mega-decluttering untuk barang-barang yang ada di kamar and keeping only the things that spark joy, saya merasa kamar saya menjadi tempat yang “good vibes only”. Bawaannya senang dan positif terus kalau lagi di kamar. Padahal saya kalau kerja juga di kamar—tapi tempat itu sekarang seperti selalu punya atmosfer menyenangkan di dalamnya.

Selain konsep “spark joy”, saya juga belajar konsep gratitude—tepatnya dalam hal menangani all of my belongings. Let’s be real here: saya nggak pernah kepikiran untuk berterimakasih pada benda-benda mati. Tapi ngelihat Marie Kondo thanking every living space that she stepped in, every item that was going to be eliminated… rasanya hati ini tersentuh. Saya jadi kepikiran kamar tidur dan rumah yang sudah saya tempati sejak balita. Banyak hal sudah diberikan mereka sebagai tempat bernaung dan hidup. Needless to say, they totally worth a big “thank you”. Begitu juga untuk barang-barang yang hendak dibuang atau didonasikan. Entah itu pakaian yang udah cacat atau nggak pernah dipakai, kabel charger rusak, atau tumpukan kertas. There must be a little history between you and the items, no matter how little it is. Jadi menurut saya penting juga untuk berterimakasih pada mereka. Thanking items pun turns out sangat membantu saya untuk lebih ikhlas dalam memilah barang-barang. No more guilty feelings ketika harus membuang sesuatu.

JUJP0765[1].JPG

Folding techniques. Saya selama ini selalu sebal dengan lemari pakaian saya yang sulit sekali menampung pakaian dengan rapi. Kalau saya ambil pakaian, isi lemari selalu berakhir berantakan. Setelah diakali dengan meletakkan semua pakaian di dalam storage boxes, tidak semua muat dimasukkan ke sana. Now thanks to the KonMari folding techniques, barang-barang berbahan kain apapun bisa lebih rapi dan muat diletakkan di dalam tempat-tempat yang pas-pasan sekalipun. Selain itu, teknik menyimpan kain dengan memperlihatkan semuanya dalam satu tempat penyimpanan benar-benar membantu untuk menjaga kerapiannya. Semisal, semua pakaian dilipat dan disusun secara berdiri dalam laci atau rak. Dengan demikian nggak ada pakaian yang tertumpuk dan luput dari pandangan. Memilih pakaian juga jadi lebih mudah karena semua terlihat.

Organizing tips. Melanjutkan soal penyimpanan barang, saya juga belajar bahwa untuk membuat barang-barang yang disimpan mudah diakses dan dilihat, every one of them should have a home. Jangan membiarkan barang-barang menumpuk atau tergeletak nggak jelas. Lalu, simpan barang sesuai ukurannya. Misalnya gunakan boks penyimpanan kecil untuk menyimpan benda-benda kecil. Selain ukurannya, barang-barang juga bisa disimpan berdasarkan kategorinya. Semisal, gunakan boks yang berbeda untuk menyimpan paku, baut, atau alat pertukangan lainnya. Atau simpan makanan kemasan di rak yang berbeda dengan minuman kemasan. Jangan lupa juga untuk meng-organize barang-barang yang ingin disimpan dengan cara yang “spark joy”, seperti memberi label-label nama yang cute untuk laci-laci berisi barang-barang berkategori khusus. Kalau nggak tahu bagaimana caranya, minimal simpan barang sedemikian rupa sehingga nggak sampai “spark stress”.

Storage methods. Marie Kondo juga punya banyak storage hack yang membantu saya dalam menyimpan barang-barang. Seperti tips menyimpan barang-barang dalam boks penyimpanan besar (container). Menurut Marie, akan lebih baik jika memilih boks plastik transparan sebagai tempat penyimpanan barang karena isinya jadi kelihatan dari luar dan kalau mau ambil atau cari barang, nggak perlu bongkar banyak boks. Untuk menyimpan foto, Marie menyarankan agar menggunakan album foto. Lalu, album foto disimpan di ruang tamu atau ruang keluarga sehingga foto-foto dapat terus dilihat. Favorit saya adalah metode “bag in bag untuk menyimpan tas di tempat yang pas-pasan. Caranya adalah dengan memasukkan tas ke dalam tas lain yang ukurannya sejenis, lalu biarkan handle atau talinya terlihat agar tetap terlihat.

Tidying habits. Karena kamar saya sekarang sudah lebih organized, almost everything got a home, dan jumlah barang yang saya simpan juga sudah jauh berkurang, saya jadi lebih rajin dan terbiasa untuk merapikan kamar. Soalnya saya jadi tahu di mana semua barang saya harus disimpan dan tempat-tempat penyimpanan barang saya pun udah nggak overwhelming dengan banyaknya barang. Dan karena sudah melalui lelahnya decluttering dan deep-cleaning besar-besaran saat memulai untuk mencoba metode KonMari ini, saya jadi value the hard work more. Kalau ada yang berantakan sedikit pasti langsung saya rapikan karena saya nggak mau harus capek-capek lagi membereskan banyak hal seperti yang saya lakukan sebelumnya. Kalau rasa malas menyerang, saya biasanya mencicil pekerjaan—pertama beresin meja dulu, kalau mood lagi baru beresin lemari. Pokoknya sebisa mungkin saya menjadikan kebiasaan merapikan ini menjadi hal yang “sparks joy”.

BJFL8031[1].JPG

Have you ever tried the KonMari Method? Tell me your stories below!

Sign-up to my bi-weekly newsletter (coming soon!) here, or follow me via Bloglovin here. Get your free 2019 printable calendar here!