I Cut Back Social Media, Here's What I Thought...

…plus tips on how to do it!

IMG-8068.JPG

Iya, saya tahu: akhirnya saya nge-post lagi. Buat yang bingung, postingan blog terakhir saya memang diunggah belum lama ini, tapi itu bukan materi baru (mengingat kepergian saya ke Bangkok sudah setahun lalu). Akhir-akhir ini saya lagi berusaha untuk finding a balance in my life. Saya memang sedang menjalani kehidupan sebagai seorang freelancer—yang sejauh ini masih banyak menghabiskan waktu di rumah. Lalu, harusnya enak, dong? Kok, masih mencari keseimbangan?

Bekerja di rumah itu saya akui banyak plus-nya. Nomor satunya: lebih santai—namanya juga di rumah, ya? But then there’s social media, where apparently anyone in this era (including me) devote most of the time of the day to scroll and double-tap. Entah sekadar iseng atau untuk menjaga eksistensi di dunia maya. Itu sebabnya kalau lagi kerja, iPhone saya selalu jadi musuh utama. Ponsel pintar itu pasti hanya bakal jadi sandungan saya saat bekerja, ketimbang being very helpful. Di luar jam bekerja pun, ia menjadi distraksi besar yang seringkali membuang waktu dan tenaga saya.

Lalu, I stumbled upon an Instagram account yang saat itu berbagi cerita soal pengalaman si pemilik akun melakukan a social media detox. Saya kemudian tertarik untuk mencari tahu lebih tentang itu. Setelah mengorek lebih banyak informasi dan cerita pengalaman di Pinterest, saya akhirnya berniat untuk melakukannya. Selain kepingin belajar untuk tidak terlalu attached pada ponsel dan dunia media sosial, saya juga mau rehat sejenak dari eksistensi di dunia maya. Akhir-akhir ini saya memang tengah sedikit depressed dengan kehidupan saya, dan media sosial yang biasanya menjadi pelarian saya kini malah menjadi hal yang toxic—I’ve had enough insecurities. Long story short, I jumped on the bandwagon!

i cut back social media (1), ruthvcp.jpg

How I Quit Social Media for A Week

Menghilangkan aplikasi. Saya menarik diri dari media sosial sesimpel dengan meng-uninstall semua aplikasi yang menunjang di ponsel. Di iPhone saya ada beberapa—Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan Pinterest. Basically aplikasi-aplikasi standar yang mungkin hampir semua orang punya di ponsel pintarnya, tapi paling menghabiskan waktu. Saya memilih untuk uninstall ketimbang hanya sign-off, karena saya ingin meniadakan penampakan aplikasi-aplikasi tersebut di ponsel—takut nantinya tergoda untuk mengakses di tengah masa detox.

Saat sedang uninstall massal, saya tertegun melihat ikon hijaunya WhatsApp. Pikir saya, ini juga yang jadi pembuang waktu saya. Kemudian, terlintas ide untuk ikut menghilangkannya. WhatsApp memang paling bisa membuat perhatian saya terpaku padanya—entah untuk chatting dengan orang lain atau sekadar ngecek foto-foto profil di kontak. Quitting WhatsApp for a week wouldn’t hurt anyone, right? Segera saya offload aplikasi berbalas pesan itu dari ponsel. Ya, untuk aplikasi ini saya nggak mau langsung uninstall, karena saya masih butuh semua data yang ada di dalamnya. So, there I went to digital detox dan berjanji pada diri untuk melakukan ini selama seminggu penuh—atau lebih jika dirasa belum cukup.

i cut back social media (2), ruthvcp.jpg

Mencari pelarian lain. Ponsel memang selalu jadi pelarian, kan? Jadi saya harus membiasakan kepala agar tidak selalu mencari ponsel. Karena sudah tahu kalau di ponsel saya sudah “tidak ada apa-apa lagi” (yes, that’s my mantra), saya akhirnya memaksa diri untuk menyibukkan diri dengan kegiatan lain jika sedang bosan atau butuh hiburan. Saya menulis, merapikan dan menghias kamar, membaca buku, menonton serial TV… semua hal yang sebenarnya saya sangat suka, tapi selalu saya lewatkan hanya untuk scrolling feeds di Instagram. Dalam seminggu ini, sudah ada dua buku yang saya baca, 21 episode serial TV baru that I just discovered yang saya tonton, dan sebuah kamar tidur yang saya tata secara minimalis seperti yang selama ini saya idamkan! Dalam pekerjaan, saya juga jadi lebih fokus. Talk about being productive, right?

Beralih ke offline. Menarik diri dari media sosial—termasuk WhatsApp—bukan berarti saya juga sepenuhnya menarik diri dari pergaulan. Untuk menjadi catatan, saya memang sempat memberitahu beberapa teman dan keluarga yang sering berkomunikasi dengan saya bahwa saya hendak melakukan digital detox. Jadi jika mereka memang ingin menghubungi saya, bisa melalui telepon atau SMS. Jika memang butuh ngobrol panjang, saya akan meminta mereka untuk bertemu langsung. Repot juga, sih, harus janjian ketemu dulu untuk nongkrong dan cerita. But in a way saya juga jadi bisa melepas kangen dengan teman-teman terdekat. Saat bertemu, saya meninggalkan ponsel saya di dalam tas, supaya pikiran saya tidak teralihkan oleh benda itu dan fokus untuk bergaul, nggak sibuk ngecek ponsel.

i cut back social media (3), ruthvcp.jpg

So, how’s life after a week of digital detox? Zuzur, rasanya lebih ringan. Meski sempat kelimpungan untuk tetap menyibukkan diri agar tidak banyak memegang ponsel, kepala saya lebih refreshed. Tidak ada bayang-bayang the perfect life of social media yang menghantui dan somehow menekan. Tidak ada insecurities yang membebani, karena semua kegiatan yang saya lakukan dijalani dengan penuh syukur. Bersyukur karena saya bisa menyelesaikan cukup banyak buku dalam seminggu. Bersyukur karena kini saya punya kamar yang selama ini saya idamkan. Bersyukur karena saya bisa menemukan serial TV baru yang ternyata sangat menarik untuk ditonton. Bersyukur karena saya jadi punya lebih banyak waktu untuk tidur di malam hari—nggak ada lagi susah tidur gara-gara sibuk scrolling!

Saya sangat merekomendasikan digital detox atau social media detox untuk dilakukan oleh penggila media sosial di luar sana, khususnya yang sampai tidak bisa meletakkan ponsel pintarnya barang sedetik pun hanya untuk scrolling. Apalagi untuk mereka yang sudah terpengaruh media sosial secara mental—like me. Percayalah, detox akan membantu untuk membuat diri berpikir lebih baik tentang diri sendiri. Saya pun berencana akan lebih sering melakukan detox ini. In the end, ini semua melatih diri untuk tidak terlalu bergantung pada ponsel dan media sosial. Real life is better!

Have you ever tried to cut back on social media—or even digital life?