Why You Deserve a Break & My Favorite Ways to Relax

Why You Deserve a Break & My Favorite Ways to Relax

I admit that I'm a bit of a workaholic. Paling senang kalau tenggelam dalam kesibukan. Rasanya puas kalau bisa produktif dan melakukan banyak hal.

Dulu saat awal masih bekerja di perusahaan, I was a yes-man. Semua tugas dan perintah dari atasan saya sanggupi. Selama saya pikir bisa dikerjakan, saya terima saja sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Atas attitude bekerja yang positif seperti itu, pekerjaan saya dihargai sekali oleh perusahaan. Saya pun jadi makin getol dalam bekerja. Saking fokusnya untuk menyelesaikan tugas dan produktif, I was up to a point where I think it's okay to skip lunch or dinner, to come home very late, and even to pass a chance of taking a day off. I worked long days, nonstop. Hanya karena berpikir saya masih bisa melakukan banyak hal, ketimbang makan, libur, atau pulang untuk tidur.

Then—as what you may expect—my whole body started to hold a protest. Kurang makan dan istirahat membuat tubuh saya jadi rentan sakit—sesuatu yang hampir nggak pernah terjadi seumur hidup saya, mengingat tubuh saya terbilang punya imunitas tinggi. Kepala sedikit-sedikit pusing, nggak bisa mikir. Badan juga berulah, tiba-tiba suka ogah diajak bergerak. Sekali dibawa tidur, bangun-bangun pasti lemas banget, rasanya kayak nggak mau gerak. My productivity completely tanked. Tapi diri saya yang masih getol untuk produktif malah berpikir bahwa taking a break still isn't an option. Ngapain istirahat, hanya orang pemalas yang sedikit-sedikit butuh istirahat.

how to relax, ruthvcp

Seringkali kita merasa bahwa work hard is everything dan it's OK to be a workaholic. Padahal, tubuh yang kita gunakan untuk bekerja itu nggak selamanya setuju. After all, we’re just human and somehow we still have limits. Pada batas tertentu, tubuh kita pasti akan kelelahan, atau malah jatuh sakit. Ada kalanya kita bisa menembus batas tersebut—tahan begadang selama beberapa malam, kuat nggak makan berhari-hari—tapi kita nggak selalu bisa menjadi super human seperti itu. At some point, your body would just quit on you. And when the time comes, you would just ask your workaholic self whether all of this is worth it.

Setelah diingatkan teman-teman dan orangtua untuk "tidak lupa bahagia", saya akhirnya mengambil cuti pertama saya untuk solo trip ke Australia. Went AWOL for two weeks. Turns out, benar saja, sepulang dari negara kanguru itu pikiran saya jadi lebih refreshed. Dan meski yang saya lakukan adalah bepergian, badan saya surprisingly jadi lebih rileks. Mungkin karena selama di sana keseharian saya lebih teratur, terutama untuk makan dan tidur. Padahal hanya dua minggu, tapi pengaruhnya besar banget. Then, I really saw the importance and great advantages of taking a break. Sekarang, meski sudah bekerja di rumah, saya tetap menanamkan prinsip "work hard, play harder", supaya nggak lupa untuk bahagia.

And you—yes, YOU—also deserve to take a break. Right. Now. Nggak hanya dari pekerjaan, tapi juga kehidupan in general. Be it just watching your favorite film, masak-masak di dapur, pergi ke mall... apapun yang bisa membuatmu untuk melupakan sejenak kesibukan dalam hidup. And when you're ready, kembalilah ke realita dengan pikiran yang lebih jernih, mental yang lebih siap, dan tubuh yang lebih kuat. Taking a break is like taking fuel for a car, or taking food for all living creatures on earth. So, no matter how hard you work, nothing beats the benefits of taking a break.

how to relax (1), ruthvcp

Little Ways to Have a Break & Relax

Membaca buku fiksi. Buat saya, novel fiksi paling bisa membuat saya untuk sejenak melupakan realita dan tenggelam dalam dunia baru yang disuguhkan. Belum lagi kalau bukunya such a page-turner, pasti rasanya kepingin baca terus. Saya memang suka membaca, tapi perasaan rileks yang saya dapat dari membaca adalah lebih kepada kebebasan untuk berimajinasi. Nothing beats the beauty of pure imagination.

Binge-watching. Kalau lagi ada sambungan internet yang mumpuni—biasanya di rumah—ini adalah kegiatan favorit saya. Streaming online untuk nonton serial-serial TV yang sedang saya ikuti (do check my current favorite TV shows here). Kalau sambungan internet lagi down, saya biasanya beralih ke YouTube. Streaming tontonan yang ringan atau simply just catching up with my favorite beauty vlogger or talkshows.

Melakukan perawatan tubuh. Maskeran, luluran… you name it. Kalau maskeran, biasanya saya melakukannya sambil melakukan hal lain, semisal membaca buku atau aktivitas-aktivitas lain yang saya sebutkan di sini.

Blogging. Biasanya kalau lagi kepingin rileks, saya bawaannya jadi ingin menulis. Kalau sudah begitu, saya buka satu-satu draft postingan blog saya yang belum rampung atau masih minim ide, lalu melanjutkannya. Menulis dengan ide apapun yang saat itu sedang terlintas di kepala. So, relaxing while producing something: checked!

Browsing randomly online. Saya memang hobi banget browsing secara random di internet, hanya karena ingin memuaskan rasa kepo soal informasi tertentu. Bukan kepo untuk stalking orang di media sosial, tapi untuk fakta-fakta random yang bikin saya penasaran. Semisal, saya pernah segitu kepo-nya dengan peristiwa tenggelamnya Titanic dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca soal itu di Wikipedia.

Tidak melakukan apapun… tapi, bukan tidur, ya. Hanya berbaring, sambil mendengarkan musik. Biasanya saya melakukan ini kalau emang lagi lelah banget dan kepingin me-rileks-kan badan juga. Sembari itu, saya juga pasti bakalan menghabiskan waktu untuk bengong (iya, serius) dan berusaha untuk menenangkan isi kepala.

how to relax (2), ruthvcp

What’s your favorite thing to do to relax while taking a break?

Sign-up to my bi-weekly newsletter (coming soon!) here, or follow me via Bloglovin here.