What I Learnt from Investing More on Skincare Than Makeup

…aside from acing that ‘no-makeup’ makeup look.

IMG-8049.JPG

Sejak menjadi seorang freelancer, saya yang banyak menghabiskan waktu di rumah ini memang jadi jarang menyentuh produk-produk makeup. Dalam seminggu, setidaknya hanya sekali saya merias wajah—dalam rangka pergi ke gereja. Sisanya, kulit ini cuma disentuh produk-produk perawatan saja. Karenanya, sembari jarang makeup-an, saya tengah fokus untuk merawat wajah. Hitung-hitung sekalian menebus kesalahan saya sama wajah ini sewaktu masih bekerja jadi jurnalis, yang saking sibuknya sampai nggak kepikiran untuk pakai sunscreen atau bablas tidur dengan wajah masih ber-makeup. Belum lagi stres yang sampai menimbulkan jerawat. I realized that one day all of those bad habits will catch up with me.

Fokus untuk merawat kulit membuat saya akhir-akhir ini jadi jarang banget mengeluarkan uang untuk makeup. Paling mentok hanya untuk repurchase produk-produk andalan—nothing new. Instead, saya mulai purchase banyak produk untuk my current skincare regiment. Dan saya merasakan hal yang positif dari ini! Saya juga jadi makin terinspirasi untuk mengedepankan perawatan kulit setelah membaca sebuah artikel online yang mengatakan kalau sekarang banyak beauty brand Korea yang mempopulerkan pentingnya mengutamakan skincare. So here’s what I learnt from investing more on it than my make-up collection…

IMG-8048.JPG

Berani tampil minimal. Gara-gara penampakan muka saya sekarang sudah mendingan, riasan wajah yang saya aplikasikan menjadi lebih simpel. Sekarang saya sudah pada tahap hanya menggunakan sedikit concealer di bawah mata dan di area-area yang kemerahan, cream blush andalan di pipi, brow pen di alis, dan bedak tabur untuk nge-set semuanya. No more layered or heavy base, sebab masalah kulit yang harus ditutupi sudah semakin sedikit. Makeup routine yang lebih simpel juga membuat waktu aplikasi makeup saya lebih singkat. Just five minutes tops! Kalau mendadak mau keluar rumah atau kedatangan tamu, paling hanya ambil lipstik kesayangan. Then bare face, don’t care.

Lebih memahami kulit. Inilah hal yang paling saya rasakan ketika mulai fokus untuk merawat wajah. Saya memulainya dengan banyak research dan melihat pengalaman orang-orang yang memiliki jenis kulit serupa seperti saya. Kalau ada masalah-masalah kulit muncul, saya pun banyak belajar dari pengalaman orang lain yang mengalami masalah serupa. Sebab kalau nggak kenal dengan tipe dan tingkah polah kulit sendiri, pasti bakal sulit untuk mencari perawatan yang sesuai dan solusi atas permasalahannya. Sekarang, it’s safe to say that I’m already a master in handling my very dry skin—with its eczema problems. Memahami kulit sendiri juga sangat membantu saya dalam memilih produk riasan dan melakukan rutinitas ber-makeup.

IMG-8050.JPG

Hemat pengeluaran. Alias nggak gampang lagi tergoda untuk jajan makeup. Karena wajah sudah prefer riasan simpel dan saya sudah lebih picky dalam memilih produk makeup, otomatis saya tidak lagi boros untuk urusan makeup. Bukannya saya jadi keberatan untuk beli produk makeup yang—misalnya—agak mahal. Tapi seenggaknya saya tidak mudah tergiur racun-racun beauty blogger atau influencer untuk mencoba bermacam produk makeup dan membelinya. Ke depannya, I believe jika kulit saya semakin baik dan terawat, saya pun nggak mesti lagi merogoh kocek lebih dalam untuk membeli banyak produk skincare atau membayar banyak treatment.

Efek jangka panjang. Tentu saja, lebih baik mencegah daripada mengobati. Menurut saya, mengedepankan perawatan wajah ketimbang riasannya memang bakal jadi investasi yang baik untuk penampilan saya ke depannya. Apalagi sejak di usia quarter life begini, saya makin sadar sama kesehatan kulit dan menghindari banget yang namanya penuaan dini. That’s why saya sudah mulai merajinkan diri untuk pakai sunscreen jika bepergian. Saya percaya kalau saya berbuat lebih banyak untuk merawat wajah dari sekarang, saya bisa mencegah kerusakan atau masalah yang akan terjadi di masa depan.


What’s more important to you: the makeup or the skincare?